Antara aku, kau dan perasaan ini - Mas Rizal

    Social Items

Mentari pagi telah menampak kan sinarnya.


Jam 6:30 aku terbangun dari buaian mimpi indah semalam.


Wajah masam, rambut tidak beraturan dan ku paksa kan mata  untuk terbuka kembali.


Namun semangkin kupaksa membuka mata namun yang ada malah ingin terlelap kembali.


Namun tiba-tiba terdengar suara teriakan "zal bangun! Kamu kerja nggak" Suara itu terdengar selalu menjelang pagi, menjadi alaram abadiku.


"Kerja mak" Sahutku dengan suara masih terkantuk-kantuk.


Bergegas kupaksa kan diri meninggal kan kasur, dimana aku yang selalu memimpikan mu, ku raih handuk dan segera mandi.


Rutinitas kujalani.


Sejujurnya aku bosan dengan pekerjaan ku seperti ini, tapi tidak sedikit pun terpikir dalam benakku untuk mengeluh dan bermalas-malasan.


Karna aku sadar aku bukan orang yang terlahir dari kelurga yang berkecukupan dan aku tidak pernah kecewa karna telah di lahirkan dari keluarga sederhana.


Kutinggal kan ceritaku, kulanjutkan kisah ku bersamamu.


Kamu gadis manis yang selalu tersenyum itu.


Windi iya! Itu namamu.


Cantik, baik, murah tersenyum menjadi kelemahan ku bila menatap mu.


Entah rasa apa yang selalu membuat ku merasa bahagia bila, melihatmu.


Sejak awal rasa ini sama sekali tidak seperti ini.


Berjalan mengikuti waktu rasa itu tumbuh dan, cinta hadir dalam bayang-bayang ketidak mampuan ku untuk mengutarakannya.


Kuharap suatu hari nanti akan ada kabar baik, yang keluar dari ucapanmu.


Aku merasa kamu yang membuatku merasa nyaman bila dekat denganmu.


Maaf jika aku terlalu terburu-buru dalam mengutarakan cinta dalam curhatan isi hatiku.


Semoga aku dan kamu menjadi kitaberdua ya.


Antara aku, kau dan perasaan ini


Mentari pagi telah menampak kan sinarnya.


Jam 6:30 aku terbangun dari buaian mimpi indah semalam.


Wajah masam, rambut tidak beraturan dan ku paksa kan mata  untuk terbuka kembali.


Namun semangkin kupaksa membuka mata namun yang ada malah ingin terlelap kembali.


Namun tiba-tiba terdengar suara teriakan "zal bangun! Kamu kerja nggak" Suara itu terdengar selalu menjelang pagi, menjadi alaram abadiku.


"Kerja mak" Sahutku dengan suara masih terkantuk-kantuk.


Bergegas kupaksa kan diri meninggal kan kasur, dimana aku yang selalu memimpikan mu, ku raih handuk dan segera mandi.


Rutinitas kujalani.


Sejujurnya aku bosan dengan pekerjaan ku seperti ini, tapi tidak sedikit pun terpikir dalam benakku untuk mengeluh dan bermalas-malasan.


Karna aku sadar aku bukan orang yang terlahir dari kelurga yang berkecukupan dan aku tidak pernah kecewa karna telah di lahirkan dari keluarga sederhana.


Kutinggal kan ceritaku, kulanjutkan kisah ku bersamamu.


Kamu gadis manis yang selalu tersenyum itu.


Windi iya! Itu namamu.


Cantik, baik, murah tersenyum menjadi kelemahan ku bila menatap mu.


Entah rasa apa yang selalu membuat ku merasa bahagia bila, melihatmu.


Sejak awal rasa ini sama sekali tidak seperti ini.


Berjalan mengikuti waktu rasa itu tumbuh dan, cinta hadir dalam bayang-bayang ketidak mampuan ku untuk mengutarakannya.


Kuharap suatu hari nanti akan ada kabar baik, yang keluar dari ucapanmu.


Aku merasa kamu yang membuatku merasa nyaman bila dekat denganmu.


Maaf jika aku terlalu terburu-buru dalam mengutarakan cinta dalam curhatan isi hatiku.


Semoga aku dan kamu menjadi kitaberdua ya.


Subscribe Our Newsletter