Panggil Saja Kami Sahabat - Mas Rizal

Halaman

    Social Items


Merajut cinta tak perlu harus memiliki Kekasih, Tambatan Hati, Atau Seseorang Yang istimewa.

Dimulai dari gedung yang sama, mengukir nama dalam dilema yang disebut perjuangan.

Kita mengikuti alur kisah cerita berawal dari sekedar ingin menentukan Cita-cita serta tujuan yang lebih baik.

Sejati-Nya aku bukan siapa-siapamu? Bukan Teman, Saudara, bahkan aku sadar! Aku hanya sebuah bintik-bintik kecil yang mulai Melebur bersama Suasana.

Aku, Kamu, Dan Dirinya? Dulu aku hanya anak yang lugu, Rambutmu kepang Dua, dan dia memiliki wajah yang sangat imut.

Awalnya aku malu? Berkaos kaki hitam putih, bertopi kardus, serta berkalungkan permen "Kopiko".

Seingatku itu waktu kita mengikuti Kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa).

Menangis, Merayu, serta selalu dikerjain oleh kakak kelas kami itu yang kami rasakan.

Kamu yang terlihat begitu cantik dikelas IX C?

Senyum ramahmu menggemparkan rasa yang terselip dalam hati kecilku.

Rasa cinta mulai terukir didalam hati? Rasa sayang mulai tumbuh menggrogoti rindu.

Sejati-Nya rindu ini akan selalu teringat, susah-senang kenangan kita yang dulu pernah bersama, mungkin tak akan pernah terlupakan.

Bayangmu akan selalu hadir di setiap malamku, lirih suaramu kala itu terus berbisik disepanjang tidurku.

Pertemuanku, Kamu Dan dirinya dipenghujung Ramadhan ini! In Sya Allah akan Selalu Terjaga, Silahturahmi kita ini akan selalu mewangi bagaikan bunga mawar ditaman itu.

Sahabatku mungkin kau terlihat begitu Cantik/Tampan malam ini, Pengalamanmu telah tercapai, Cita-citamu telah Terwujud.

Kini saatnya aku Mendengarkan kisahmu! Dibalik tatapan wajah yang tulus kau ucapkan.


Cerita Oleh :
Editor :
Picture By :

Panggil Saja Kami Sahabat


Merajut cinta tak perlu harus memiliki Kekasih, Tambatan Hati, Atau Seseorang Yang istimewa.

Dimulai dari gedung yang sama, mengukir nama dalam dilema yang disebut perjuangan.

Kita mengikuti alur kisah cerita berawal dari sekedar ingin menentukan Cita-cita serta tujuan yang lebih baik.

Sejati-Nya aku bukan siapa-siapamu? Bukan Teman, Saudara, bahkan aku sadar! Aku hanya sebuah bintik-bintik kecil yang mulai Melebur bersama Suasana.

Aku, Kamu, Dan Dirinya? Dulu aku hanya anak yang lugu, Rambutmu kepang Dua, dan dia memiliki wajah yang sangat imut.

Awalnya aku malu? Berkaos kaki hitam putih, bertopi kardus, serta berkalungkan permen "Kopiko".

Seingatku itu waktu kita mengikuti Kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa).

Menangis, Merayu, serta selalu dikerjain oleh kakak kelas kami itu yang kami rasakan.

Kamu yang terlihat begitu cantik dikelas IX C?

Senyum ramahmu menggemparkan rasa yang terselip dalam hati kecilku.

Rasa cinta mulai terukir didalam hati? Rasa sayang mulai tumbuh menggrogoti rindu.

Sejati-Nya rindu ini akan selalu teringat, susah-senang kenangan kita yang dulu pernah bersama, mungkin tak akan pernah terlupakan.

Bayangmu akan selalu hadir di setiap malamku, lirih suaramu kala itu terus berbisik disepanjang tidurku.

Pertemuanku, Kamu Dan dirinya dipenghujung Ramadhan ini! In Sya Allah akan Selalu Terjaga, Silahturahmi kita ini akan selalu mewangi bagaikan bunga mawar ditaman itu.

Sahabatku mungkin kau terlihat begitu Cantik/Tampan malam ini, Pengalamanmu telah tercapai, Cita-citamu telah Terwujud.

Kini saatnya aku Mendengarkan kisahmu! Dibalik tatapan wajah yang tulus kau ucapkan.


Cerita Oleh :
Editor :
Picture By :

No comments

Komentar Yang Tidak Sopan Saya Hapus.