Dear Mr PLN: Tiada Hari Tanpa Cacian - Mas Rizal

Halaman

    Social Items


Terkadang entah harus dari mana untuk di jelaskan, menjadi orang baik atau sebaliknya bukan suatu pilihan.
Melihat indah senyummu menatap bening sinar bola matamu yang terpancar biru kehitaman itu.

Dari Gelap menjadi Terang seharus nya aku berterimakasih dari rasa yang terdalam.

Dulu aku hanya ditemani sebuah lampu Pelita tiada TV, AC, Kipas Angin, Bahkan sebuah Mp3 Players.

Tapi kini semua tersedia dengan semestinya, menikmati serial Drama Korea sampai Laga Hollywood yang menajubkan Mata.

Tapi itu tidak sejalan dengan harapan yang semestinya sering sekali Kecewa, Marah, Mencaci tidak pernah terlewat.

Apa semestinya harus seperti ini? Setiap saat kau permainkan Kecewakan Kami, marah sampai kami beramai-ramai berkunjung mendatangimu wahai MR PLN.

Sejatinya kami tidak mengharap lebih kami hanya ingin kau mengerti disaat kau mulai memadamkan dengan kehendakmu atau kesalahan kami untuk menuntut lebih.

Disisi lain kau tidak pernah mengerti apa yang sedang terjadi sering kali dia menangis, ada yang sedang mengerjakan tugas, bahkan disaat kami mulai melakukan kebaikan dengan sengajanya kau mematikan sinar terangmu.

Maaf kalau aku salah? semestinya aku tidak Sekeritis ini mengkritikmu.

Mungkin aku salah yang tak pernah mengerti apa yang sedang terjadi diruang kemudimu.

Tapi kenapa setiap sore kau padamkan itu? Kau tidak paham kan anak-anak sering bersedih hilang semangat untuk melihatkan wajah cerianya.

Disisi lain betapa riuh suara kampung ku ketika kau hidupkan kembali sinar terangmu ada secerca kebahagian yang terlontar dari mata-mata sayup yang redup oleh kegelapan malam.

Mungkin aku dari sekian banyak orang yang ingin berkata "Terimakasih" Kau telah memberikan cahaya terang dari gelapnya malam.

Kutulis dari rangkaian kata yang sedikit demi sedikit menjadi Sebuah ucapan nyata, Teruntukmu MR PLN "Thank you".

Jambi Kab. Tungkal Ulu Kec. Batang Asam Des. Simpang Rambutan/Suban - Indonesia.


Ditulis Oleh :
Editor :

Dear Mr PLN: Tiada Hari Tanpa Cacian


Terkadang entah harus dari mana untuk di jelaskan, menjadi orang baik atau sebaliknya bukan suatu pilihan.
Melihat indah senyummu menatap bening sinar bola matamu yang terpancar biru kehitaman itu.

Dari Gelap menjadi Terang seharus nya aku berterimakasih dari rasa yang terdalam.

Dulu aku hanya ditemani sebuah lampu Pelita tiada TV, AC, Kipas Angin, Bahkan sebuah Mp3 Players.

Tapi kini semua tersedia dengan semestinya, menikmati serial Drama Korea sampai Laga Hollywood yang menajubkan Mata.

Tapi itu tidak sejalan dengan harapan yang semestinya sering sekali Kecewa, Marah, Mencaci tidak pernah terlewat.

Apa semestinya harus seperti ini? Setiap saat kau permainkan Kecewakan Kami, marah sampai kami beramai-ramai berkunjung mendatangimu wahai MR PLN.

Sejatinya kami tidak mengharap lebih kami hanya ingin kau mengerti disaat kau mulai memadamkan dengan kehendakmu atau kesalahan kami untuk menuntut lebih.

Disisi lain kau tidak pernah mengerti apa yang sedang terjadi sering kali dia menangis, ada yang sedang mengerjakan tugas, bahkan disaat kami mulai melakukan kebaikan dengan sengajanya kau mematikan sinar terangmu.

Maaf kalau aku salah? semestinya aku tidak Sekeritis ini mengkritikmu.

Mungkin aku salah yang tak pernah mengerti apa yang sedang terjadi diruang kemudimu.

Tapi kenapa setiap sore kau padamkan itu? Kau tidak paham kan anak-anak sering bersedih hilang semangat untuk melihatkan wajah cerianya.

Disisi lain betapa riuh suara kampung ku ketika kau hidupkan kembali sinar terangmu ada secerca kebahagian yang terlontar dari mata-mata sayup yang redup oleh kegelapan malam.

Mungkin aku dari sekian banyak orang yang ingin berkata "Terimakasih" Kau telah memberikan cahaya terang dari gelapnya malam.

Kutulis dari rangkaian kata yang sedikit demi sedikit menjadi Sebuah ucapan nyata, Teruntukmu MR PLN "Thank you".

Jambi Kab. Tungkal Ulu Kec. Batang Asam Des. Simpang Rambutan/Suban - Indonesia.


Ditulis Oleh :
Editor :

No comments

Komentar Yang Tidak Sopan Saya Hapus.