Sepenggal Cerita Dari Desa - Mas Rizal

Halaman

    Social Items


Suara Lirih Jam Dinding Mulai Terdengar merdu, Suara Jangkrik mulai bersautan di balik Rerumputan diluar sana, Sesekali Suara Kodok mulai bernyanyi diRawa dibelakang Rumah Kami.

Lampu Pelita yang senantiasa menemaniku dari kegelapan malam dikamar ini, Buku Tulis Sepucuk Pena menjadi tempatku menuliskan Kisah! Serasa Ingin Kembali Ke 16 Tahun Yang Lalu.

23 Augustus 2002 Kembali Terdengar Tangisan Merdu Seorang Bayi Mungil Berjenis Kelamin Perempuan Terlihat Bahagia Seorang Ibu Muda Yang Mengharapkan Dia Hadir Dalam hidupnya.

Dari Luar berlari seorang Bocah Kecil Mungil, bertubuh Kerempeng Yang beramput ikal itu? Kutahu Itu adalah Abangku,  Yang Kini telah beranjak Dewasa.

Betapa bahagia Raut wajahnya Melihat Adik mungilnya Telah lahir dengan selamat Serta orang Tuanya, Dia terlihat begitu sayang sampai menyelimutiku dari dinginya pagi itu.

Fadila Hidayati! Orang Tua ku memberikan nama itu kepada ku yang saat itu masih tertidur pulas dalam balutan gedong diselimuti Kehangatan Ibuku.

Dipinggiran Kota Di tengah perkebunan Kelapa Sawit Aku masih mengingatnya, Aku tumbuh dengan penuh kasih sayang, dari kedua orang tuaku serta Abangku.

Sejatinya aku dilahirkan dari orang biasa Bukan Pemilik Kekayaan yang berlimpah, bukan pula Pemilik kekuasaan, orang tua ku hanya Sebagian kecil dari mereka yang ingin merubah nasib Yang sedikit lebih baik.

Tidak sedikitpun dihati pernah terlintas bahwa "Aku Menyesal Telah Terlahir" kedunia Ini Dari Kedua orang Tua ku yang senantiasa Merawat Dan menyayangiku serta Abangku yang sangat begitu Perduli Terhadapku.

Ku Akhiri kisahku di Ujung Tinta Hitam di atas kertas putih ini, Kutulis dari Pingiran Kota Jambi, Tepatnya Simpang Rambutan - Suban, Teruntuk kamu Malaikatku "Thank You" Telah Melahirkan Dan Merawatku.


Cerita Oleh :
Editor :

Sepenggal Cerita Dari Desa


Suara Lirih Jam Dinding Mulai Terdengar merdu, Suara Jangkrik mulai bersautan di balik Rerumputan diluar sana, Sesekali Suara Kodok mulai bernyanyi diRawa dibelakang Rumah Kami.

Lampu Pelita yang senantiasa menemaniku dari kegelapan malam dikamar ini, Buku Tulis Sepucuk Pena menjadi tempatku menuliskan Kisah! Serasa Ingin Kembali Ke 16 Tahun Yang Lalu.

23 Augustus 2002 Kembali Terdengar Tangisan Merdu Seorang Bayi Mungil Berjenis Kelamin Perempuan Terlihat Bahagia Seorang Ibu Muda Yang Mengharapkan Dia Hadir Dalam hidupnya.

Dari Luar berlari seorang Bocah Kecil Mungil, bertubuh Kerempeng Yang beramput ikal itu? Kutahu Itu adalah Abangku,  Yang Kini telah beranjak Dewasa.

Betapa bahagia Raut wajahnya Melihat Adik mungilnya Telah lahir dengan selamat Serta orang Tuanya, Dia terlihat begitu sayang sampai menyelimutiku dari dinginya pagi itu.

Fadila Hidayati! Orang Tua ku memberikan nama itu kepada ku yang saat itu masih tertidur pulas dalam balutan gedong diselimuti Kehangatan Ibuku.

Dipinggiran Kota Di tengah perkebunan Kelapa Sawit Aku masih mengingatnya, Aku tumbuh dengan penuh kasih sayang, dari kedua orang tuaku serta Abangku.

Sejatinya aku dilahirkan dari orang biasa Bukan Pemilik Kekayaan yang berlimpah, bukan pula Pemilik kekuasaan, orang tua ku hanya Sebagian kecil dari mereka yang ingin merubah nasib Yang sedikit lebih baik.

Tidak sedikitpun dihati pernah terlintas bahwa "Aku Menyesal Telah Terlahir" kedunia Ini Dari Kedua orang Tua ku yang senantiasa Merawat Dan menyayangiku serta Abangku yang sangat begitu Perduli Terhadapku.

Ku Akhiri kisahku di Ujung Tinta Hitam di atas kertas putih ini, Kutulis dari Pingiran Kota Jambi, Tepatnya Simpang Rambutan - Suban, Teruntuk kamu Malaikatku "Thank You" Telah Melahirkan Dan Merawatku.


Cerita Oleh :
Editor :

1 comment:

Komentar Yang Tidak Sopan Saya Hapus.