Satu Hati Dua Cinta Tiga Sahabat

Orang kaya Sombong... Orang kaya Sombong...  Orang kaya Sombong... Mereka selalu memanggilnya begitu kepada seorang gadis yang aku tahu dia barusan pindah kedesa kami beberapa bulan lalu.



Naluriku sebagai lelaki yang ingin selalu melindungi seseorang yang lemah apalagi ini seorang wanita, dan seperti biasa dia hanya bisa menangis ketika mereka mulai menertawakannya.

"Hey Jangan beraninya sama Perempuan" Ucapku?, hahaha dia lagi Sok jadi pahlawan, entah sudah berapa kali Godem Mentah menghatam wajahku "Aduh" Aku hanya bisa merintih kesakitan dalam hati. Jadi Pahlawan kok lemah,  hahahaha mereka menertawakan Ku lalu meninggalkan kami berdua.

"Kamu nggak apa-apa" Tanya dia? Aku hanya bisa diam dan menahan rasa sakit lalu berdiri, datang lah seorang anak lelaki yang selalu berkata "Jangan jadi Pahlawan Kalau belum bisa jaga diri sendiri" Ucapan itu selalu aku dengar setelah aku selesai dipermalukan oleh ketiga anak itu, Setelah itu aku bergegas pergi meninggalkan mereka.

"Ton? Kok nggak pulang dulu nanti dicari ibumu" Tanya bapak Ku yang sedang beristirahat, "Matamu Kenapa Ton?" Tanya bapakku lagi, Aku hanya diam dan langsung pergi menggayuh sepedah kesayanganku.

"Assalamualikum.wr.wb" Sambil menaruh sepedah di samping Rumah "Walaikumsalam.wr.wb" sahut ibu sambil membuka kan pintu, Belum juga sampai kedalam ibu sudah berkata "Matamu kenapa lagi Ton? Berantem lagi, nglindungi anak gadis itu?" Aku hanya diam lalu masuk kedalam Kamar.

"Makan dulu Ton nanti ibu obati lukamu" Suara ibu yang selalu kwatir akan keadaan anaknya, aku Bergegas makan lalu setelah itu ibu langsung mengobati pelipisku yang memar.

"Bu? Jadi orang baik itu apa harus sesakit ini" Tanyaku yang sambil menahan perih, "Menjadi orang baik itu tidak indah seperti yang kamu hayalin, Dan jangan pernah menyerah untuk menjadi orang baik ingat itu ya Tony" Setelah Mendengar ucapan itu aku serasa mendapat energy tambahan yang pastinya Akan selalu aku ingat.

Keesok harinya... 

"Ton? Nanti siang sepulang sekolah langsung kesawah ya tadi bapak ngomong sama ibu begitu" Iya bu? Sahutku langsung bergegas Menggayuh sepedah menuju sekolah.

Dari kejahuan aku selalu memandang Gadis itu yang setiap harinya aelalu diantar oleh supir pribadinya, sampai saat ini aku belun tau namanya yang ku tahu dia memiliki rambut panjang dan matanya sipit.

Seperti biasa sehabis sekolah mereka ketiga anak nakal itu selalu Membully Gadis Sipit itu, Orang kaya Sombong... Orang kaya Sombong...  Orang kaya Sombong... Tanpa Ada rasa takut dan kapok lagi-lagi aku ingin menjadi Pahlawan yang kuat namun apalah dayaku Godem Mentah mendarat tepat di hidung ku "Aduh" Pekikku lagi dalam hati menahan rasa sakit.

"Ada Apa ini" Mereka langsung lari meninggalkan kami setelah mengdengar suara sopir pribadi Gadis itu, "Kamu tidak apa-apa" Tanya gadis itu? Lagi-lagi datang seorang anak lelaki yang selalu berkata "Jangan jadi Pahlawan Kalau belum bisa jaga diri sendiri". Aku hanya diam dan langsung pergi meninggalkan mereka sambil mengelap Mimisan di hidung.

"Ayo Non kita pulang?" Ajak sopir Gadis Itu! Pak ikuti anak itu dulu ya ajak gadis itu kepada sopirnya "Baik non".

"Ton?  Cepet ganti baju setelah itu makan lalu bantu bapak pindahin bibit itu ya!", Iya pak? Jawabku sambil bergegas mengambil tempat bekal yang dibawakan ibu Ku tadi pagi ternyata sayur favorite Tumis Kangkung dengan sambal Jengkol.

Dari kejauhan aku lihat Ada seorang yang mendekat "Hey" Sapa gadis itu?  Kamu tahu dari mana aku Ada disini sambil menelan makanan yang penuh dalam mulut ku, tadi aku ngikuti kamu dari belakang!... 

"Ton" Ajak temannya makan?  Teriak bapak dari kejauhan!  Iya pak? "Kamu udah makan belum? Tanyaku kepada gadis itu,  "Aku masih kenyang" Gadis itu berkata. Kamu belum tahu ini makanan kesukaan saya sekali kamu makan ketagihan selamanya! Sambil menyodorkan Piringkepada gadis itu.

Ngomong-ngomong nama kamu siapa ya? Tanyaku kepada gadis itu!  Namaku "Karin" Kalau nama kamu siapa? Tanya dia kepadaku!  Namaku "Tony" Berkata sambil mulut penuh dengan makanan.

Bagaimana enakkan masakan ibuku?  Memastikan masakan ibuku paling enak diseluruh dunia ini! "Iya enak kok" Jawab "Karin" Dengan nada lembutnya? 

Ayo Non Pulang nanti dicariin Mama? "Iya pak sebentar" Jawabnya lagi?  "Makasih ya udah nolongin saya terus" Ucapnya kepadaku, Iya santai saja.

Keesok Harinya...

Seperti biasa aku berangkat sekolah mengendarai sepedah kesayangan, jarak tempuh dari rumah ke sekolah 5Km membutuhkan waktu 30menit anggaplah ini latihan otot kaki.

Setibanya dipintu gerbang seorang gadis menyapaku "Hay", sapa Karin yang berdiri tepat di depanku! "Tumben jam segini sudah datang?" Ledekku yang sedikit mulai akrab dengannya.

"Kok kamu tahu? Aku sering kesiangan berangkatnya! Hayo kamu sering ngawasin aku ya" Ucap karin sambil tertawa kecil. "Tidak kok?" Elak ku yang sedikit gugup.

Lonceng terdengar sangat keras menandakan jam pelajaran telah usai semua murid mulai riuh, "Ayo rapikan bukunya dan berdo'a" Ucap pak guru!!.

Seperti biasa aku selalu menunggu gadis itu keluar dari Ruangnya, namun kali ini aku beranikan diri untuk memperlihatkan diriku. "Hay Rin aku temenin kamu jalan sampai pintu gerbang ya? Takutnya nanti kamu di ejek sama mereka lagi" Ucapku memberi tawaran kepada Karin! Sepanjang jalan menuju Pintu gerbang kami asik berbincang dan pada akhirnya!!! ...

Orang kaya Sombong... Orang kaya Sombong...  Orang kaya Sombong... Ucap mereka yang tidak pernah bosan "lihat itu orang kaya sombong sekarang dikawal oleh pahlawan yang lemah dan tak bisa ngelindungi dirinya sendiri" Kata seorang dari mereka dan dibarengi ketawa lepas.

Aku hanya berkata "Kenapa kalian hanya berani kepada orang lemah dan seorang wanita saja apa kalian tak pernah berpikir sebagai lelaki kita di wajibkan melindungi seorang wanita" Ucapku yang sedikit agak mengeras.

"Nggak kapok apa? setiap hari nolongi orang lain dan kamu sendiri yang merasakan sakitnya" Kata mereka. "Aku tidak akan pernah kapok untuk melindungi seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan dan bagiku menang kalah itu urusan Nanti" Ucapku yang kali ini benar-benar berasa seorang yang paling kuat.

"Hajar aja" Bisik Satu dari ketiga orang itu? Sebuah hantaman melesat begitu cepat namun kali ini aku masih bisa menangkis dan memukul mereka, setelah itu mereka kabur meninggalkan Ku. 

Seperti biasa seorang lelaki cuek yang selalu berkata "Jangan jadi Pahlawan Kalau belum bisa jaga diri sendiri". Tiba-tiba kali ini dia Menyodorkan tangan sambil berkata "Namaku Sigit" Dan aku membalas "Namaku Tony" Dan ini "Karin" Yang selalu menangis ketika mereka mengejeknya "ledeku Kepada karin".. 

"Saya pulang dulu ya Ton itu Pak Yanto sudah datang" Bergegas meninggalkan kami, demikian juga dengan Sigit dia juga sudah ditunggu Ayahnya.

Setelah kejadian itu kami bertiga menjadi sahabat.

Dimulai dari Karin dia ternyata anak pengusaha sukses Dan berdarah China, sedang kan Sigit anak Penjabat dan memiliki beberapa petak sawah, dan aku sendiri adalah anak perantau aku di lahirkan di Lampung.

Oh iya hampir lupa! Kami bersekolah di SMPn5 Karin berada dikelas (VII A),  Sigit dikelas (VII B),  sedangkan aku dikelas (VII C). Kami Selalalu bersama entah itu ketika lagi Iatirahat,  Jam kosong dan waktu pulang selalau bersama! Walau terkadang terpisah di perjalanan.

"Ma! Besok karin ada pelajaran Tambahan jadi pulanya sore" Ucap karin kepada Mamanya? "Iya besok mama suruh bibi bawain bekal buat kamu".

Sama halnya dengan Sigit dia berkata hampir sama dengan karin kepada Ayahnya. 

Bell tanda pelajaran telah usai anak-anak pada berhamburan keluar, Tony dan Karin menghampiri ku " Ton jadi kesawah kan" Ajak mereka berdua? Aku hanya menganggukan kepala.

"Kita mau kemana non" Tanya pak Yanto" Kita kesawah yang kemaren pak? Tapi jangan kasih tau Mama ya" Dengan wajah memelas! "Iya Non" Sahut Pak Yanto sedikit Gugup.

Aku dan Sigit berboncengan menaiki sepedah kesayanganku canda tawa lepas sepanjang jalan namun kutahu Sigit tetap saja terlihat Cuek.

"Suasananya sejuk ya disini Ton jadi betah! Pemandangannya juga bikin Sejuk dimata" Kata mereka berdua! Aku hanya tersenyum "Kalau disini sih sejuk coba disana" Sambil menunjuk Bapakku yang Sedang menyangkul.

"Pak? Sudah makan belum?" Teriakku memangil bapakku yang sedang bekerja! "Sudah Ton? Ajak temanmu makan" Jawab bapak yang sedikit tersengal suaranya.

"Ayo kita makan Dulu Rin, Git nanti aku ajak ketempat sesuatu yang begitu asik" Ajakku kepada mereka berdua "kemana Ton" Tanya karin dengan wajah penasaran?. 

"Disini aku selalu menanti Matahari Pulang kerumahnya" Kutunjukan kepada mereka Markas favorit ku dibawah pohon Mangga ini aku selalu berhayal ketika langit mulai memerah Dan matahari mulai tenggelam.

Hari-hari selalu dilewati bersama kadang mereka ikut membantuku mananam padi, mencabut rumput, Dan asiknya mencari Siput pemakan padi yang imut.

Ketika Langit mulai memerah dan matahari mulai tenggelam kami selalu menikmati pemandangan ini, Dan pada akhirnya Karin Bertanya?.

"Git kalau sudah besar nanti cita-citamu ingin jadi apa?"

Lalu sigit menjawab dengan lantang "Kalau sudah besar Nanti aku ingin Jadi Pengacara yang hebat Dan aku ingin membela orang yang lemah".

Lalu apa cita-cita kamu Rin? "Aku ingin menjadi Dokter yang hebat Dan menyembuhkan semua orang yang sakit".

Sekarang giliran Tony ucap karin! Aku berdiri lalu menarik Nafas dalam-dalam Cita-cita kalian begitu mulia kalau begitu aku hanya Cukup "Menjaga Dan selalu Melindung Orang yang aku Sayang" Dengan Nada mantab Dan berwibawa.

"Itu bukan Cita-Cita Ton?" Protes mereka Dan aku tidak mau ketinggalan yang penting itu cita-citaku, lalu kami tertawa lepas bersama.

Tiba-tiba terdengar suara mobil lalu teriak'an "Karin" Itu mama Ku Ton? Terlihat karin begitu gugup. "Jadi selama ini kamu berbohong sama mama ternyata kamu bermain dengan anak kampung dan kumuh ini!" Dengan wajah begitu marahnya. Karin hanya bisa berkata "Maaf ma?  Ayo pulang.

Tolong Pak anak nya dibilangin jangan bermain dengan anak Saya "baik buk maafkan anak saya" Ucap bapak dengan kepala sedikit menunduk. "Aku juga pulang dulu ya Ton?  Ayah juga Sudah menunggu di mobil?" Giliran Sigit Sekarang yang harus pulang.

"Ada apa sih Ma kok marah-marah" Tanya Papa Karin setibanya mereka dirumah? "Lihat karin pa selama ini dia berbohong sama mama dia malah bergaul dengan anak kampungan itu?" Dengan wajah penuh amarah "Lain kali jangan berbohong ya Karin,  bilang saja dengan jujur" Ucapnya dengan nada berwibawa dan buat mama jangan membatasi anak kita bermain dengan siapa saja.? "Ya udah karin mandi lalu makan? ". "Iya Pa" Dengan wajah tertunduk Lesu.

Disisi lain aku hanya terpaku di suatu zona yang aku anggap terlalu nyaman, "Ton? ayo pulang sudah mau malam sebentar lagi" Iya pak? Bergerak menjauh dari tempat itu.

Di perjalanan pulang aku selalu memikir kan ucapan Mamanya Karin tadi, tanpa disadari kami sudah sampai dirumah sederhana jauh dari keramaian Kota, kami tinggal di ujung Kota Jambi tepatnya Di Kab. Tanjung Jabung Barat, Kec. Batang Asam, Desa. Trans Suban/Sri Agung.

"Langsung Mandi ya Ton setelah itu nanti kita makan bersama, Adikmu sudah nyariin dari tadi" Ucap ibu. (Bersambung)...


Perhatian: Cerita ini hanya Fiktif Belaka, bila terjadi kesamaan nama, Tempat dan Sebagian Cerita, Mohon Maaf Sebagai Pengarang dan Penulis.

Cerita Oleh :
Editor :

Post a Comment

1 Comments

Komentar Yang Tidak Sopan Saya Hapus.