Mahar: Diceritakan Oleh Pengalaman Hidup

Malam itu, aku duduk bersama ayah dan kakakku diruang tamu,. Itu memang kebiasaan setiap hari yang memang dari dulu sudah kami terapkan, berbagi cerita, usul pendapat, dan bersenda gurau,.

Entah kenapa, seakan malam itu rasanya kami kehabisan topik, dan hanya diam termangu saling tatap sambil menyeruput teh hangat,.

Mataku kemana mana,. Mengamati setiap sudut ruangan, barang kali ada yang perlu dibenahi, tidak, semua tersusun rapi, rapi sekali bahkan ukiran Wayang di dinding yang dari kecil sudah ku lihat masih terpaku baik disitu.


"ayah... Coba liat ukiran itu,."
Seraya telunjukku mengarah pada yang ku tuju
"iya nak,. Kenapa?"
"aku sudah melihatnya sejak lama, itu unik, bisa ayah ceritakan darimana ayah mendapatkannya?"

"ukiran itu sangat berharga bagi ayah, itu Mahar yang ayah berikan saat ayah melamar ibumu"
"lantas kenapa ukiran itu berbentuk Wayang? Bukankah ayah orang Aceh dan ibu orang Jambi?"


Aku bertanya tanya lagi, kakakku hanya melihat sambil sesekali berkutik pada Smartphone miliknya, Ia memang cuek, tapi ia yang bertanggung jawab atas semua kebutuhanku. Ia bekerja sepanjang hari karna itu Smartphone selalu ada didekatnya untuk mengecek pekerjaannya..

Ayahku terdiam sambil sesekali tersenyum dan menjawab pertanyaanku.

"waktu ayah masih muda, ayah suka merantau, sudah banyak daerah yang ayah tempati dan yang terakhir ayah bekerja di Jogja, disitulah Ayah bertemu dengan Ibumu, awalnya kami hanya rekan kerja biasa, setiap hari kami selalu jumpa dan bertegur sapa, tak lama pun kami akhirnya akrab, setiap malam minggu kami membuat rencana untuk berjalan - jalan di Malioboro, disana tempatnya sangat menarik, jejeran lampu jalan yang membuat jalan tidak gelap mengundang anak muda untuk nyaman saat meghabiskan malam ditempat itu, pengamen jalanan dan beberapa orang yg menujukkan bakat tumpah ditempat itu,.

Aneka wedangan dan gorengan banyak dujual di angkringan, kalaupun lapar ada nasi kucing, gudek, geblek sengek banyak yang jual.. Bukan hanya orang jawa saja berbagai macam suku suku bahkan bule sekalipun ikut menikmatinya,.

Kami selalu melewati gang dekat Kantor Bupati, disitu ada Toko yang menjual kesenian Jawa, salah satunya Wayang yang dipajang di etalase dekat pintu masuk,.
Dan setiap kami melewati tempat itu, ibumu menyempatkan untuk melirik sambil berkata pada ayah,

"Wayang itu sangat menarik, sayang kalau lewat tidak menyempatkan melihatnya"
Dalam hati ayah berkata
"kalau bagus kenapa tidak beli saja,? Apa harus menunggu aku peka?"

Aku lantas tertawa terkekeh mendengar pernyataan ayah tersebut, kemudian ayah melanjutkan ceritanya.

" tujuh bulan kami bersama,hingga saat itu ibumu mendapat panggilan dari kampungnya bahwa ibunya tengah sakit keras, terpaksa ia harus berangkat segera dan ayah yang mengawaninya sampai di Bandara, berat rasanya ayah melepas ibumu disitu, tapi tak papa nanti dia juga bakal kembali, gaji saja belum ia terima, Masa mau dibiarkan.

Namun sudah sebulan lebih ibumu tak memberi kabar sama sekali, ayah cemas dan menanyakan hal tersebut pada atasannya,. Ternyata ibumu sudah di PHK secara sepihak, dan mengenai gaji sudah dipotong dengan pinjaman ibumu yang kebetulan juga belum dilunaskan, ayah kecewa pada ibumu, tak ada memberi kabar.

Karna rasa penasaran ayah susul ibumu bermodal alamat dari mantan atasannya, nasib baik ayah tidak kesasar dan bisa menemukan ibumu dirumahnya, Lantas ayah disambut hangat oleh keluarganya dan mereka menyuruh ayah untuk cepat melamar ibumu,.

Dalam hati ayah sangat kaget dan bingung, tabungan tidaklah cukup kalau untuk dibuat lamaran sekarang, ayah lantas terdiam, mungkin ibumu tau yang dirasakan ayah, ia pun mengajukan permohonan pada ayah, agar Mahar yang ayah berikan cukup Wayang yang sering ia amati semasa di Jogja, ayah langsung sumringah dan memberi kabar pada keluarga ayah,.

Singkat cerita Wayang itu yang menjadi simbol pengikat antara ibu dan ayah, setiap saat selalu ibumu rawat dan bersihkan agar tak bedebu, ia kagum pada kesenian itu, ukiran yang telaten yang menghasilkan karya yang luar biasa,."

Ayah berhenti bercerita dengan linangan air mata karena teringat kenangan masa lalu bersama ibu, ah,.. Aku pun juga tak sengaja meneteskan air mata teringat rinduku pada ibu yang tak terbendung,.

Sepeninggal ibu saat aku berumur 11 Tahun, aku sudah terbiasa mandiri tanpa merepotkan yang lain, ayahku yang setiapun enggan mengganti sosok ibu dirumah ini, biarlah ia yang mengambil alih posisi agar kami merasa tak kekurangan kasih sayang sedikit pun dari ibu,. Walau kami tau, itu tetap saja tidak bisa menggantikan sosok ibu dihati kami,.

Editor: Rizal
Cerita Oleh: Nia Verina

Post a Comment

0 Comments