Renungan Pak Tua - Mas Rizal

Halaman

    Social Items

Aku duduk di kursi samping rumah kala sore itu, menikmati suasana senja yang keemasan sambil menyruput Teh Hangat buatan istri, badanku sudah renta, umurku sudah menginjak Satu Abad artinya aku sudah berkepala lima, Masa mudaku telah habis, tinggalah masa tua bersama istri di rumah yang tidak begitu besar, anak anakku telah menikah dan hidup di rumah mereka sendiri, ada yang tinggal didekat sini, ada pula yang tinggal diluar kota ikut suami,.

Dulu aku begitu Gagah, Tinggi Besar dan banyak ditakuti orang, menjabat sebagai mandor disuatu perkebunan, tugasku mengawas dan mengayomi anggota, Ketika umurku beranjak di usia 35 tahun, aku memutuskan untuk membuka usaha jeruk manis yg masih kugeluti sampai sekarang, Masa muda nan begitu sulit, ada penyesalan dan ada pula kebanggaan,.

Ada yang kudambakan jadi kenyataan, dan ada juga yang ku dambakan namun tak dapat ku pegang, waktu kecil aku selalu berfikir menjadi remaja itu menyenangkan, dan setelah remaja berfikir pula aku bahwa menjadi dewasa itu amatlah berwibawa, dan setelah aku dewasa banyak masalah sana sini teringat pula bahwa masa kecilku lebih menyenangkan, karna aku tau, setelah aku dewasa pastilah aku menjadi tua seperti sekarang ini,.


Apa yg diharapkan orang tua?? Apa berharap mati lebih menyenangkan?? Hahaha... Hidup itu terlalu singkat, menjadi dirimu yang sekarang adalah hal yang menyenangkan, kau mampu hidup ditengah masalah tanpa harus mengambil jalan pintas, tanpa harus mengandai andai, dan tanpa harus menghilang seperti pesulap.

Mungkin kau gagal, tapi jika itu prioritasmu,. usahakan lagi, kejar lagi, dan kerjakan lagi, semua tidak ada yang berakhir sebelum kematian,. Hidup adalah kesempatan, apa yang tidak bisa kau dapatkan itu karena kau tidak bersungguh sungguh, ingatlah.!! takdir itu dapat dirubah dengan do'a baik,.

Itulah yang aku fikirkan, hari pun mulai gelap, kumandang Adzan dari surau dekat rumah sudah terdengar, aku masuk dan mengajak istriku untuk beribadah,. Semua terasa damai, damai saat tidak ada gundah dihatimu,..

Editor: Rizal

Cerita Oleh: Nia Verina

Renungan Pak Tua

Aku duduk di kursi samping rumah kala sore itu, menikmati suasana senja yang keemasan sambil menyruput Teh Hangat buatan istri, badanku sudah renta, umurku sudah menginjak Satu Abad artinya aku sudah berkepala lima, Masa mudaku telah habis, tinggalah masa tua bersama istri di rumah yang tidak begitu besar, anak anakku telah menikah dan hidup di rumah mereka sendiri, ada yang tinggal didekat sini, ada pula yang tinggal diluar kota ikut suami,.

Dulu aku begitu Gagah, Tinggi Besar dan banyak ditakuti orang, menjabat sebagai mandor disuatu perkebunan, tugasku mengawas dan mengayomi anggota, Ketika umurku beranjak di usia 35 tahun, aku memutuskan untuk membuka usaha jeruk manis yg masih kugeluti sampai sekarang, Masa muda nan begitu sulit, ada penyesalan dan ada pula kebanggaan,.

Ada yang kudambakan jadi kenyataan, dan ada juga yang ku dambakan namun tak dapat ku pegang, waktu kecil aku selalu berfikir menjadi remaja itu menyenangkan, dan setelah remaja berfikir pula aku bahwa menjadi dewasa itu amatlah berwibawa, dan setelah aku dewasa banyak masalah sana sini teringat pula bahwa masa kecilku lebih menyenangkan, karna aku tau, setelah aku dewasa pastilah aku menjadi tua seperti sekarang ini,.


Apa yg diharapkan orang tua?? Apa berharap mati lebih menyenangkan?? Hahaha... Hidup itu terlalu singkat, menjadi dirimu yang sekarang adalah hal yang menyenangkan, kau mampu hidup ditengah masalah tanpa harus mengambil jalan pintas, tanpa harus mengandai andai, dan tanpa harus menghilang seperti pesulap.

Mungkin kau gagal, tapi jika itu prioritasmu,. usahakan lagi, kejar lagi, dan kerjakan lagi, semua tidak ada yang berakhir sebelum kematian,. Hidup adalah kesempatan, apa yang tidak bisa kau dapatkan itu karena kau tidak bersungguh sungguh, ingatlah.!! takdir itu dapat dirubah dengan do'a baik,.

Itulah yang aku fikirkan, hari pun mulai gelap, kumandang Adzan dari surau dekat rumah sudah terdengar, aku masuk dan mengajak istriku untuk beribadah,. Semua terasa damai, damai saat tidak ada gundah dihatimu,..

Editor: Rizal

Cerita Oleh: Nia Verina

No comments

Komentar Yang Tidak Sopan Saya Hapus.